Sejarah Pesantren

Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Al-Quran Cijantung Kabupaten Ciamis – Jawa Barat didirikan pada tahun 1935, sepuluh tahun menjelang NKRI diproklamirkan kemerdekaannya. Pendiri dan perintisnya adalah KH. Mochammad Sirodj (Babah) putera pertama dari KH. Hayat dan Hj. Fatmah, yang lahir pada tahun 1910.

Berawal dari sebidang tanah wakaf dari KH. Idris, kakek dari garis ibu, yang terletak di dusun Cijantung, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, KHM. Sirodj mulai merintis dan mendirikan pondokan sederhana serta sebuah mushola sederhana pula. Berbekal ilmu yang beliau dapatkan dari beberapa ulama/ajengan pesantren yang disinggahinya antara lain; Pesantren Kiara Bandung-Banjarsari Ciamis, Pesantren Cikalang-Tasikmalaya, Pesantren Cikancung-Bandung, serta selama Tujuh tahun belajar Qira’at al-Quran kepada beberapa Syeikh di Makkah Almukarramah - Arab Saudi, khususnya kepada Syeikh Ibrahim Al-Ghomrowi seorang ulama ahli qura’ yang sangat terkenal, di tempat yang sederhana ini beliau siang dan malam melakukan jihad dalam rangka menyebarkan syiar agama Islam. Kepada para santri yang datang dari berbagai daerah, beliau ajarkan pengetahuan tentang dasar-dasar Islam dan terutama pengetahuan dan pemahaman tentang qira’at al-Quran, bagaimana cara membaca (termasuk menulis) al-Quran dengan benar, fasih dan tartil sesuai kaidah ilmu tajwid.

Keberadaan Pesantren Cijantung dalam sejarah pertumbuhan pesantren di Jawa Barat dapat dikategorikan sebagai pesantren al-Quran tertua bersama dengan Pesantren Lontar-Serang Banten pimpinan KH. Sholeh Ma’mun, teman seangkatan KHM. Sirodj waktu belajar di Makkah. Dari ‘rahim’ Pesantren Cijantung ini telah banyak melahirkan alumni ahli qura’ yang sebagian diantaranya sudah mampu mendirikan lembaga dan atau menjadi penerus lembaga yang dibangun orang tuanya dari yang berskala kecil, sedang, maupun besar. Selain mampu mendirikan lembaga-lembaga pesantren, para alumni juga telah turut mensyi’arkan al-Quran lewat MTQ di tingkat regional, nasional maupun internasional. Dan hingga saat ini Pesantren Cijantung selalu memberikan kontribusi dan menjadi tempat pembinaan bagi kafilah Jawa Barat yang dipersiapkan dalam even MTQ Nasional/Internasional.

Dalam perkembangan selanjutnya, Pesantren Cijantung dari waktu ke waktu tak berhenti melakukan proses pemberdayaan dirinya dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Model kurikulum salafiyah murni dan kajian ilmu terbatas pada qirat al-Quran yang dijalankan selama ± 30 tahun yakni sejak berdiri tahun 1935 sampai awal 1970-an, mulai diperbaharui dan diperkaya dengan cara mengadopsi kurikulum nasional (Depdikbud-saat itu- dan Depag) melalui penyelenggaraan pendidikan formal yakni Madrasah Mualimin (setingkat SD/MI), serta Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang dibuka sejak 1970 sampai dengan 1991. Kemudian pada tahun 1986 dibuka Madrasah Tsanawiyah (MTs/SLTP), tahun 1988 dibuka Madrasah Aliyah (MA/SMU) yang statusnya berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) pada tahun 1997 dan pada tahun 2007 telah didirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI/SD). Untuk menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga pendidikan formal yang ada serta pengembangan selanjutnya, maka dibentuklah sebuah yayasan dengan nama “YAYASAN PENDIDIKAN AL-ISLAM CIJANTUNG”.

Pelajaran kitab kuning yang semula difokuskan pada kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu-ilmu al-Quran (tajwid), sejak itu mulai diperkaya dengan pelajaran-pelajaran (kitab) fiqh, tauhid, bahasa Arab (nahwu, sharaf dan balaghah), serta ditunjang juga dengan pelajaran bahasa Inggris. Seiring dengan perkembangan zaman, metode pembelajaran yang semula menggunakan metode klasikal, maka mulai tahun 2006 digunakanlah metode-metode percepatan mutu pendidikan seperti : Metode Amtsilaty (cara cepat baca kitab kuning) dan Metode Qiro’aty (cara cepat baca Al Qur’an) serta metode BBQ (cara cepat baca Al Qur’an).

Sejalan dengan itu, dalam rangka menunjang dan mendukung kelancaran pendidikan di pesantren, dibangun pula lembaga-lembaga penunjang dan infrastruktur lainnya seperti pada tahun 1994 didirikan lembaga perekonomian pesantren yaitu Kopontren / BMT Asy-Syifa yang bergerak di bidang usaha Perdagangan Umum dan Jasa Simpan Pinjam. Pada tahun 1996 didirikan Pos Kesehatan Pesantren (POSKESTREN) pertama di Jawa Barat yang diresmikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Wilayah Propinsi Jawa Barat. Selanjutnya pada tahun 2000 didirikan Lembaga Pendidikan Komputer, pada tahun 2003 telah dibangun gedung perpustakaan pesantren yang saat ini sedang dalam proses pengumpulan buku-buku dan kitab-kitab sebagai koleksi pustaka, serta pada tahun 2008 telah dikembangkan usaha Air Quro Hexagonal.

Seiring perjalanan waktu dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan mulai dilakukan pembenahan-pembenahan di berbagai sektor, dari mulai program pembelajaran ampai dengan organisasi kelembagaan. Dengan dasar bahwa hamper semua asset yang dimiliki adalah wakaf dari Almaghurlah KH. Moh. Sirodj selaku pendiri pesantren, maka mulai tahun ini tepatnya sejak bulan  Maret 2015 perubahan nama yayasan pun dilakukan yang semula bernama YAYASAN PENDIDIKAN AL-ISLAM diubah menjadi YAYASAN WAKAF KH. MOH. SIRODJ CIJANTUNG.